in

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani Sebut Fondasi Bangunan Makrifat dan Kewalian

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani Sebut Fondasi Bangunan Makrifat dan Kewalian

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengilustrasikan maqam religious sebagai bangunan yang juga memiliki struktur dan unsur-unsur yang membentuknya. Syekh Abdul Qadir menyebut ujian atau bala sebagai fondasi (religious) utama dalam sebuah bantuan bangunan.

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan, tanpa fondasi bangunan fisik tidak akan dapat berdiri. Kalaupun berhasil juga berdiri, pendirian bangunan fisik tanpa fondasi tersebut akan sangat rapuh dan lemah. Hal yang sama juga terjadi pada sebuah bangunan religious.

Bangunan kenabian, kerasulan, kewalian, makrifatullah, dan mahabbah, kata Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, berdiri kokoh di atas fondasi kesabaran (menahan dan mengendalikan diri) orang yang berada pada maqam tersebut dalam menghadapi sebuah bala’ atau ujian.

Kesabaran atas bala’ atau pertanyaan ini membentuk, mendidik, menggembleng, melatih, dan memberikan pelajaran serta pengalaman batin yang kokoh bagi para rasul, nabi, wali, dan ulama sebagai fondasi religious mereka.

لا البلاء البلاء الصبر اس لكل . اس النبوة الرسالة الولاية المعرفة المحبة البلاء ا لم لى البلاء لا اس لك. لا اء لبناء لا اس، ا ابتا لى لة

Artinya, “Jangan kau lari dari ujian karena ujian yang dihadapi dengan kesabaran merupakan fondasi bagi setiap bangunan religious. Fondasi atas bangunan kenabian, kerasulan, kewalian, makrifat (makrifatullah), dan mahabbah (cinta kepada Allah) adalah bala’. Jika kau tidak berpikir atas bala’, maka kau tidak memiliki fondasi (religious). Sedangkan tidak ada bangunan tanpa fondasi. Apakah Anda pernah melihat bangunan rumah yang kokoh berdiri di atas tempat pembuangan sampah yang menggunung?” (Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, Al-Fathur Rabbani wal Faidhur Rahmani, [Beirut, Darul Fikr: 2005 M/1425-1426 H], halaman 73).

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani menambahkan, “Bisa kamu menghindari dan melarikan diri dari bala atau ujian Allah karena tidak membutuhkan derajat kewalian, makrifat, dan dekat dengan Allah, tetapi melihat dan beramal baiklah hingga hati dan batinmu diperjalanan ke pintu ‘kedekatan’ dengan -Nya. Orang yang percaya tidak takut dan tidak berharap kepada selain Allah.” (Al-Jailani, 2005 M/1425-1426 H: 73).

Allah SWT dalam beberapa ayat bala’ yang menguji menguji jauh kesabaran dan mahabbah manusia kepada-Nya sebagaiman keterangan pada Surat Al-Baqarah ayat 155:

لَنَبْلُوَنَّكُمْ الْخَوْفِ الْجُوعِ الأَمَوَالِ الأَنفُسِ الثَّمَرَاتِ الصَّابِرِينَ

Artinya, “Sungguh, Kami menguji kalian dengan sedikit jaringan, kekurangan, harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah (Wahai Muhammad) kabar gembira kepada orang-orang sabar,” (Al-Baqarah ayat 155).

Pada ayat lain, Allah juga menyebutkan bahwa kehidupan dan kematian diciptakan sebagai ujian untuk memilih dan menyeleksi manusia-manusia terbaik dan pilihan:

الَّذِي لَقَ الْمَوْتَ الْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ لاً الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

Artinya, “(Dialah Zat) Yang menjadikan mati dan hidup agar Dia menguji kalian, siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya. Dia maha perkasa lagi maha pengampun,” (Al-Mulk ayat 2)

Allah SWT juga menikmati kesenangan dunia selain penderitaan dan bencana untuk menguji seberapa jauh sikap syukur manusia atas nikmat yang dianugerahkan kepada mereka sesuai dengan tanggapan Nabi Sulaiman AS dalam menerima anugerah-Nya:

الَ ا لِ لِيَبْلُوَنِي ا لِنَفْسِهِ

Artinya, “Sulaiman AS berkata, “Ini anugerah Tuhanku untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau ingkar. Siapa saja yang bersyukur, maka sangat bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri. Tetapi siapa saja yang ingkar, maka sungguh Tuhanku maha kaya lagi maha mulia, ‘” (An-Naml ayat 40).

Nabi Muhammad SAW dalam sabdanya di nomor menyebutkan hal serupa. Bala atau ujian Allah yang paling berat diberikan kepada para nabi, kemudian orang-orang teladan, dan kemudian orang-orang pilihan.

ال الناس لاء الأنبياء الأمثل الأمثل

Artinya, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Sungguh, manusia yang paling berat pertanyaannya (bala) adalah para nabi, kemudian orang-orang pilihan di bawahnya, lalu orang-orang utama berikutnya,’” (HR Bukhari, At-Tirmidzi, Ibnu Majah , Ahmad, Al-Hakim, Ibnu Hibban, Advert-Darimi, At-Thayalisi, Abd bin Hamid).

Bala’ atau ujian Allah ini menjadi fondasi religious atas bangunan kokoh kenabian, kerasulan, kewalian, kehambaan, dan kesalehan para rasul, para nabi, para wali, ulama, dan orang-orang saleh-salehah. Wallahu a’lam. (Alhafiz Kurniawan)

Tulisan Asli diterbitkan oleh NU.OR.ID

Sumber Artikel

What do you think?

Written by bangArif

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

GIPHY App Key not set. Please check settings

Kemuliaan Guru dan Orang Berilmu dalam Al-Qur’an dan Hadits

Kemuliaan Guru dan Orang Berilmu dalam Al-Qur’an dan Hadits