in , , , , , , ,

Nasionalisme, Toleransi Beragama, dan Laku Peribadatan Sufistik

Nasionalisme, Toleransi Beragama, dan Laku Peribadatan Sufistik

Khidmat Ilmiah Manaqib Internasional 4 di Masjid Raya Jawa Barat. Seri Kajian Tasawuf : Nasionalisme, Toleransi Beragama, dan Laku Peribadatan Sufistik dalam rangka Mengamalkan Nilai Agama sebagai bentuk Amaliyah Ajaran Agama Islam.

Alkhamdulillah, pada kesempatan yang baik ini, bangArif yang sedang dan akan selalu belajar, mencoba untuk sedikit menulis tentang apa yang diwasiatkan oleh Guru Agung terkait dengan Nasionalisme, Toleransi Beragama, dan Laku Peribadatan Sufistik dalam rangka mengamalkan nilai agama sebagai bentuk amaliyah ajaran agama Islam.

Bismillahir Rokhmaanir Rokhiim

Assalamu ‘Alaikum Wa Rokhmatullohi Wa Barokaatuh

Alkhamdulillah, Puji serta Syukur dipanjatkan hanya kepada Alloh Subkhanahu Wa Ta’ala. Karena dengan rakhmat-Nya kita diberikan kesempatan untuk dapat berinteraksi melalui tulisan sederhana ini.

Sholawat dan Salam disampaikan teruntuk junjungan kita Sang Juru Selamat Manusia, Nabiyyuna wa Rosuluna, Sayyiduna, Habiibunaa, Wa Maulaana Muhammad SAW.

Terima kasih yang dalam saya sembahkan kepada Para Guru, Ahli Silsilah Thoriqoh Qodiriyah Wa Naqsyabandiyah Suryalaya-Sirnarasa, Terkhusus untuk Syaikhuna Wa Murobbi Arwakhina Sulthonul Auliya fii haadza zaman, Syaikh Muhammad Abdul Ghaots Syaifulloh Maslul Ra QS. (Abah Aos: Mursyid TQN Suryalaya-Sirnarasa Silsilah ke-38).

Alkhamdulillah, atas karomah beliau saya diperkenankan untuk dapat berbagi sedikit informasi yang saya dapat dari beliau Syaikh Muhammad Abdul Ghaots Syaifulloh Maslul RA QS (Abah Aos).

Informasi ini didapat pada momen Khidmat Ilmiah yang disampaikan langsung oleh Pangersa Guru Agung Abah Aos Ra Qs dalam acara Manaqib Internasional ke-4 yang dilaksanakan pada hari Sabtu 2 November 2019 di Masjid Raya Propinsi Jawa Barat Indonesia.

Nasionalisme, Toleransi Beragama, dan Laku Peribadatan Sufistik
Foto Oleh @sufimedia38

Tujuan daripada Manaqiban ini adalah dalam rangka melestarikan 9 kemenangan. Yaitu:

1. La’allakum Tattaquun

2. Nuzuulul Quran

3. Lailatul Qodar

4. Aidil Fitri

5. Minal ‘Aidzin wal Faizin

6. Kejayaan Agama

7. Kejayaan Negara

8. Maulid Nabi Muhammad SAW

9. Peradaban Dunia.

Mengawali prolognya pada Kidmat Ilmiah tersebut, Abah Aos menyampaikan bahwa 9 kemenangan ini dapat ditempuh hanya dengan sekali pertemuan saja, yaitu manaqiban.

Momen Manaqib Internasional ke-4 yang bertempat di Masjid Raya Propinsi Jawa Barat ini adalah sekaligus dalam rangka Syukur Ni’mat atas terlaksananya Kegiatan Manaqib di Masjid Negara-Negara di Dunia. Bukan hanya di Masjid Negara yang ada di Indonesia saja, akan tetapi Manaqiban ini juga telah masuk ke Masjid-Masjid Negara lain di Dunia.

Sampai dengan pelaksanaan Manaqib Internasional ke-4 ini, baru ada 38 Negara di dunia yang Masjidnya telah dimasuki Manaqiban bukan “dimasuki jin” tetapi dimasuki Manaqiban Syaikh Abdul Qodir Al Jaylani dari Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah Pondok Pesantren Suryalaya dibawah Silsilah Mursyid ke-38 yakni Shulthonul Auliya fii haadza Zamaan, Mursyidunaa wa Murobbi Arwakhinaa, Maulaana Syaikh Mukhammad Abdul Ghaots Syaifulloh Maslul Rodhiyallohu Anhu Qoddasalloohu Sirrohu (Abah Aos Ra Qs. purple).

Juga dalam rangka syukur atas telah berdirinya Rowdhoh (Taman Surga) ke-2 di kolong langit ini setelah Masjid Nabawi. Rowdhoh kedua ini adalah Masjid Raya Propinsi Jawa Barat Indonesia. Dimana pada tahun 2005 yang lalu, Masjid Raya Jawa Barat ini secara resmi telah dimasuki Manaqiban Syaikh Abdul Qodir Al Jaylani dari Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah Suryalaya. Ini sekaligus menetapkan bahwa ketika Majelis Dzikir masuk ke Masjid Raya Jawa Barat ini, maka Masjid Raya Jawa Barat adalah Rowdhoh (Taman Surga). Karena dalam pandangan ahli tasawuf bahwa Rowdhoh (Taman Surga) adalah “Tempat Dzikir”. Tetapi, Abah Aos menjelaskan bahwa Dzikir tersebut bukan dzikir yang “dikira-kira”, tetapi dzikir yang jelas dan ada ketentuan Sunnah dari Rosululloh Muhammad SAW, dzikir yang “Sesuai Petunjuk dan Contoh” dari Rosululloh Mukhammad SAW.

Nasionalisme Dalam Pandangan Sufi

Masih dalam kesempatan yang sama, Pangersa Guru Agung Abah Aos Ra Qs, juga menyampaikan bahwa ketika itu ada orang yang bertanya kepada salah seorang muridnya (KH. Jujun Junaidi Pengasuh PP Al Jauhari Kab. Garut) tentang “Kenapa Abah Aos tidak ikut ke Monas (Momen peristiwa 212 di Monumen Nasional Jakarta .purple)? Abah Aos juga tidak memerintahkan murid-murid ke Monas?. Pangersa Abah Aos memberikan jawaban dengan dialek sebagai berikut:

Pertanyaan seseorang kepada murid Abah Aos : “Kenapa Abah Aos tidak ikut ke Monas, juga kenapa Abah Aos tidak memerintahkan murid-muridnya ke Monas?”

Jawaban Abah Aos : “eh…, kata siapa, Abah mah sebelum mereka datang Abah sudah disitu, mereka sudah dibubarkan oleh polisi Abah mah masih disitu. Apa maksud disitu, adalah “Menancapkan Kejayaan Agama dan Negara”.

Abah Aos Ra. Qs.

Abah Aos Ra Qs kemudian menjelaskan bahwa pada masa 40 tahun sebelum Indonesia merdeka, Guru kita Abah Sepuh (Syaikh Abdulloh Mubarok bin Nur Mukhammad – Mursyid TQN Suryalaya Silsilah ke-36) sudah memegang teguh Agama dan Negara melalui “Tanbih” yang dibuat beliau dimana didalamnya istilah Agama dan Negara disebut hingga 7 kali. Karenanya Abah Aos Ra Qs dengan tegas menyampaikan makna “Agama dan Negara” dalam “Tanbih” adalah bahwa “Agama bukan hanya Islam, dan Negara bukan hanya Indonesia“. Karenanya, menurut hemat penulis, apa yang disampaikan oleh Abah Aos Ra Qs adalah sebuah wujud rasa Nasionalisme beliau yang itu menjadi penting dan perlu diamalkan oleh umat Islam yang toleran dan menjunjung tinggi semangat Cinta Tanah Air sebagai bagian dari pada keimananan.

Toleransi Beragama Sufistik

Terkait dengan toleransi beragama, ditegaskan kembali oleh Abah Aos Ra Qs, bahwa sampai dengan usia beliau ketika itu, beliau belum menemukan ada ayat Alquran yang memerintahkan orang kafir masuk Islam, ada juga “Lakum diinukum waliyaddiin“, ada juga “Laa Iqrooha fiddiin“, ada juga “Wa Regulation Syi’na ‘alaa hadzaa Naas…ilaa akhir, dalam pengertian bahwa “kalau Aku (Alloh) mau, maka semua manusia akan masuk islam”. Akan tetapi yang ada adalah dalam Alquran Surat Albaqoroh ayat 208 bahwa Alloh SWT  memerintahkan Orang beriman untuk masuk Islam. Maka menurut Abah Aos bahwa semestinya manusia tidak hanya sebatas Iman saja, tetapi juga mesti masuk Islam. Dan tidak ada Alquran memerintahkan Orang Kafir masuk Islam, karenanya jangan dipaksakan, Tidak Boleh, jangan diperkosa, mereka mau silahkan, tidak mau juga biarkan itu menjadi urusan mereka.

Pada kesempatan tersebut dengan tegas Abah Aos Ra Qs menyampaikan pesan “Toleransi antar Umat Beragama” bahwasanya umat Islam tidak diperintahkan untuk memaksa penganut agama lain untuk masuk kedalam Islam. Pernyataan Abah Aos Ra Qs tersebut dapat menjadi contoh toleransi agama agar senantiasa para murid-muridnya dan umat Islam Indonesia memahami dengan bijak tentang apa yang dimaksud dengan toleransi beragamana sebagaimana yang diterangkan dalam Alquran.

Laku Peribadatan Sufistik

Mengekalkan Wudlu Sebagai Nilai Agama

Disampaikan oleh Pangersa Abah Aos Ra Qs bahwa salah seorang muridnya yang bernama KH. Rusdi Al Wahhabi datang berkunjung ke kediaman beliau di Pondok Pesantren Sirnarasa Ciamis dengan mengajak seorang temannya yang bernama Pak Budi yang konon dia adalah seorang Non-Muslim yang gemar mendengar suara dizkir dan berkeinginan untuk mengenal lebih dalam tentang Islam.

Sebelumnya, dikesempatan yang berbeda terjadi sebuah diskusi panjang selama ber jam-jam tentang ajaran Islam antara KH Rusdi Al Wahhabi dengan Pak Budi. Pada diskusi tersebut keduanya tidak mendapat titik temu atas apa yang mereka diskusikan tersebut. Kemudian keduanya (Kyai Rusdi dan Pak Budi) datang berkunjung ke kediaman Abah Aos Ra Qs dengan maksud untuk menemukan pencerahan atas apa yang mereka berdua diskusikan tersebut.

Sesampainya mereka di Sirnarasa dan bertemu dengan Abah Aos Ra Qs dan menceritakan tentang diskusi tersebut, hanya dalam waktu lebih kurang 10 menit, tercapailah kesamaan pandangan terkait dengan diskusi tersebut. Kemudian Pangersa Abah Aos Ra Qs mengajukan pertanyaan kepada Pak Budi, …sekarang mau bagaimana? Pak Budi menjawab, …terserah Abah. Lantas Abah Aos Ra Qs menyampaikan, …kalau begitu, sekarang Talqin. Saat itu Kyai Rusdi meminta kepada Pak Budi untuk Wudlu. Namun Abah Aos Ra Qs melarang Pak Budi untuk Wudlu karena beliau belum masuk Islam, karena Wudlu itu kalau mau Sholat. Selanjutnya Pak Budi di Talqin Dzikir sebagaimana yang disampaikan oleh Abah Aos Ra Qs.

Kembali kepada pembahasan tentang “Mengekalkan Wudlu Sebagai Nilai Agama”, Abah Aos Ra Qs menyampaikan bahwa ketika seseorang mengekalkan Wudlu (selalu dalam keadaan memiliki wudlu), maka pada setiap kegiatannya itu bernilai sedang menunggu datang waktu sholat, apapun kegiatannya. Bahkan ketika seseorang sedang bermain “Gaple” (permainan kartu domino) namun seseorang tersebut memiliki wudlu, maka sejatinya ia sedang menunggu waktu sholat tiba. Demikianlah beliau Abah Aos Ra Qs menyampaikan bahwa hal tersebut adalah salah satu bentuk Nilai Agama.

Robithoh Sebagai Syarat Wajib Sholat

Pembahasan tentang Robithoh akan bangArif lanjutkan pada kesempatan berikutnya.

Terima kasih telah membaca, semoga dapat menjadi Berkah dan Manfaat bagi kita Semuanya, Segalanya, dan Selamanya. Amiin.

Wassalamu ‘Alaikum Wa Rokhmatulloohi Wa Barookaatuh.

What do you think?

Written by bangArif

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

GIPHY App Key not set. Please check settings

4 Kecenderungan Perilaku Manusia Berdasarkan Rentang Usia

4 Kecenderungan Perilaku Manusia Berdasarkan Rentang Usia

Silsilah, Riwayat, dan Karya Syaikh Abdul Qodir Al Jaylani Ra Qs

Silsilah, Riwayat, dan Karya Syaikh Abdul Qodir Al Jaylani Ra Qs