in , , , ,

Awal Penciptaan Menurut Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani Ra Qs

Sejarah Awal Penciptaan Makhluk Dalam Kitab Sirrul Asror

Awal Penciptaan Menurut Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani Ra Qs

Sejarah Awal Penciptaan Makhluk Dalam Kitab Sirrul Asror

Alkhamdulillah, pada kesempatan yang baik ini, bangArif yang sedang dan akan selalu belajar, mencoba untuk menulis kembali apa yang disampaikan oleh Guru Agung Sufi Sulthonul Auliya Syaikh Muhyiddin Abdul Qodir Al-Jailani Ra. Qs. tentang “Awal Mula Penciptaan” dalam Kitabnya “Sirrul Asror”.

Bismillahir Rokhmaanir Rokhiim

Assalamu ‘Alaikum Wa Rokhmatullohi Wa Barokaatuh

Alkhamdulillah, Puji serta Syukur dipanjatkan hanya kepada Alloh Subkhanahu Wa Ta’ala. Karena dengan rakhmat-Nya kita diberikan kesempatan untuk dapat berinteraksi melalui tulisan sederhana ini.

Sholawat dan Salam disampaikan teruntuk junjungan kita Sang Juru Selamat Manusia, Nabiyyuna wa Rosuluna, Sayyiduna, Habiibunaa, Wa Maulaana Muhammad SAW.

Terima kasih yang dalam saya sembahkan kepada Para Guru, Ahli Silsilah Thoriqoh Qodiriyah Wa Naqsyabandiyah Suryalaya-Sirnarasa, Terkhusus untuk Syaikhuna Wa Murobbi Arwakhina Sulthonul Auliya fii haadza zaman, Syaikh Muhammad Abdul Ghaots Syaifulloh Maslul Ra QS. (Abah Aos: Mursyid TQN Suryalaya-Sirnarasa Silsilah ke-38).

Alkhamdulillah, atas karomah beliau saya diperkenankan untuk dapat berbagi sedikit informasi tentang apa yang disampaikan oleh Guru Agung Sufi Sulthonul Auliya Syaikh Muhyiddin Abdul Qodir Al-Jailani Ra. Qs. tentang “Awal Mula Penciptaan” dalam Kitabnya “Sirrul Asror”.

Di kesempatan ini, bangArif hanya menuliskan kembali apa yang ada dalam buku “Terjemah Sirrul Asror, Rasaning Rasa” bagian Mukadimah tentang Awal Penciptaan yang ditulis oleh KH Zezen Zainal Abidin Bazul Asyhab karangan Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani Ra Qs yang isinya adalah sebagai berikut :

MUKADIMAH

Menjelaskan Tentang Awal Penciptaan

Ketahuilah-semoga engkau diberi taufik pada segala yang dicintai dan diridhai Allah SWT-makhluk perta ma yang diciptakan Allah SWT adalah ruh Muhammad SAW. Ia diciptakan dari cahaya Jamalullah. Sebagaimana firman Allah dalam Hadis Qudsi,

Pertama kali yang aku ciptakan adalah ruh Muhammad dari cahaya-Ku.”

Nabi SAW juga bersabda, “Yang pertama diciptakan oleh Allah ialah ruhku. Dan, yang pertama diciptakan oleh Allah ialah cahayaku. Dan, yang pertama diciptakan oleh Allah ialah Al-Qalam. Dan, yang pertama diciptakan oleh Allah ialah akal.” (HR. Abu Daud).

Artinya bahwa ruh, cahaya, al-qalam, dan akal pada dasarnya adalah satu, yaitu Hakikat Muhammad.

Hakikat Muhammad kemudian disebut nûr karena bersih dari segala kegelapan yang menghalangi jalâlullâh. Sebagaimana firman Allah,

“Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menjelaskan.” (QS. Al-Ma’idah [5]: 15)

Hakikat Muhammad disebut juga akal karena ia yang menemukan dan memahami segala sesuatu. Hakikat Muhammad disebut juga al-qalam (pena) karena ia menjadi sebab perpindahan ilmu seperti halnya mata pena sebagai penoreh ilmu di hamparan alam huruf (pengetahuan yang tertulis). Ruh Muhammad adalah ruh yang termurni, sebagai makhluk pertama dan asal seluruh makhluk. Ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW,

“Aku dari Allah dan orang-orang beriman berasal dari diriku.”

Dan dari ruh Muhammad itulah Allah SWT menciptakan semua ruh di Alam Lahut dalam bentuk yang terbaik dan hakiki Dar Muhammad adalah nama bagi seluruh manusia di Alam Lahut. Alam Lahut adalah-Negeri Asal. Setelah 4.000 tahun dari penciptaan Ruh Muhammad, Allah SWT kemudian menciptakan ‘Arasy dari Nur Muhammad. Begitu pula, seluruh makhluk lainnya diciptakan dari Nur Muhammad.

Selanjutnya, ruh-ruh itu diturunkan ke alam yang terendah maksud saya (Syekh Abdul Qadir Al-Jailani) ke dalam jasad-jasad manusia. Sebagaimana firman Allah,

“Kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya.” (QS. At-Tîn [95]: 5)

Proses turunnya adalah setelah ruh diciptakan di Alam Lahut, kemudian ia diturunkan ke Alam Jabarut. Lalu, di sana ia dibalut dengan Cahaya Jabarut sebagai pakaian antara dua haram (dua tempat antara dimensi ketuhanan dan dimensi makhluk, di Alam Kabir). Ruh di lapisan kedua ini disebut Ruh Sulthani. Selanjutnya, diturunkan lagi ke Alam Malakut dan dibalut dengan Cahaya Malakut yang kemudian disebut dengan Ruh Ruwani. Kemudian, diturunkan lagi ke Alam Mulki dan dibalut dengan Cahaya Mulki. Ruh di lapisan keempat inilah yang disebut dengan Ruh Jismani.

Selanjutnya, Allah SWT menciptakan jasad-jasad. Sebagaimana firman Allah,

“Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain.” (QS. Thâha [20]: 55)

Setelah tercipta jasad-jasad, Allah SWT memerintahkan ruh (di Alam Mulki tadi) agar masuk ke dalam jasad-jasad itu dan ruh pun masuk ke dalamnya. Sebagaimana firman Allah,

“Dan Aku tiupkan ruh ciptaan-Ku dari-Ku.” (QS. Al-Hijr (15):29)

Ketika ruh berada di dalam jasad dan merasa senang di dalamnya, ruh lupa akan perjanjian awal di Alam Lahut, yaitu hari perjanjian ketika Allah SWT bertanya,

“Bukankah Aku ini Tuhan kalian?”

“Mereka menjawab, ‘Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.’ (QS. Al-A’raf [7]: 172)

Akibat ruh lupa pada perjanjian awalnya maka ia tidak dapat kembali ke Alam Lahut sebagai Negeri Asal. Dengan kasihnya, maka Allah SWT pun menolong ruh-ruh itu dengan menurunkan kitab-kitab samawi yang mengingatkan mereka tentang Negeri Asal. Sebagaimana firman Allah,

“Dan ingatkanlah mereka pada hari-hari Allah.” (QS. Ibrahim [14]:5)

Maksud “hari-hari Allah” adalah hari saat pertemuan antara Allah SWT dengan seluruh arwah di Alam Lahut. Adapun para nabi, mereka datang ke bumi dan kembali ke akhirat. Badan mereka di bumi, sedangkan ruh intinya berada di Negeri Asal karena adanya peringatan ini. Sangat sedikit orang yang sadar, berkeinginan, dan berkeinginan sampai ke Negeri Asal.

Maka kenabian dilimpahkan kepada Ruh Muhammad yang agung, penutup risalah dan penyelamat dari ketersesatan. Lalu, Allah SWT memberi tugas risalah pada Ruh Agung, Muhammad SAW. All SWT mengutus beliau untuk mengingatkan manusia-manusia yang lalai sehingga terbuka mata bashirah-nya dari lelap yang melalaikan. Maka, Nabi SAW pun mengajak mereka agar kembali dan bisa bertemu dengan Jamalullâh yang azali. Sebagaimana firman-Nya,

“Katakanlah (Muhammad), ‘Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan (bashirah) yakin,” (QS. Yusuf (12): 108)

Nabi SAW juga bersabda,

“Para sahabatku seperti bintang-bintang, mengikuti yang mana pun, kalian akan mendapat petunjuk.” (HR. Al-Qurthubi)

(Pada ayat tadi dijelaskan bahwa Nabi mengajak manusia kembali kepada Allah SWT dengan yakin, yang di dalam AlQur’an dibahasakan dengan bashirah) Bashirah adalah Inti Ruh yang terbuka bagi mata hati para aulia. Bashirah ini tidak akan terbuka bagi mereka yang hanya mendalami ilmu lahir saja. Untuk membukanya harus dengan ilmu Ladunni Batin (ilmu yang langsung dari Allah setelah melakukan mujahadah). Sesuai dengan firman Allah,

“Dan Kami telah ajarkan kepadanya satu ilmu (Ladunni) dari sisi Kami.” (QS. Al-Kahf [18]: 65).

Oleh sebab itu, orang yang ingin membuka Inti Ruhnya harus berguru pada ahli-ahli bashirah dengan mengambil talqin dari seorang wali mursyid yang memberi petunjuk langsung dari Alam Lahut.

Wahai saudaraku! Perhatikanlah akan hal ini dan cepat-cepatlah momohon ampun pada Tuhan kalian dengan segera bertahan All SWT berfirman,

“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa,” (QS. Ali ‘Imrân(3]:

Dan, masuklah pada ath-thariq (jalan kembali kepada Allah) dan kembalilah kepada Tuhan kalian bersama golongan ahli ruhani. Waktu sangat sempit, sedang jalan hampir tertutup. Dan, sungguh sulit mencari teman yang dapat mengajak kembali ke Negeri Asal (Alam Lahut). Kita berada di bumi yang hina dan akan hancur ini, tidak hanya untuk berpangku tangan lalu makan, minum dan memenuhi hawa nafsu belaka. Seorang ahli sya’ir berkata,

Sekarang bangkitlah dan mabukkan hatimu dengan anggur suci

Kita duduk diam di tempat gelap ini (dunia) tak akan berarti apa-apa

Nabi kalian selalu menunggu dan sangat khawatir memikirkan kalian. Sebagaimana sabda Nabi SAW, “Aku mengkhawatirkan umatku yang hidup di akhir zaman.”

Ei murge ruh bar par azin döm pur balo, Wahai burung ruh lepaslah dari jeratan penuh bala ini

Par vöz kun beh zaruhi eivön kibriya Terbanglah menuju puncak atap keagungan

Adapun ilmu yang diturunkan kepada kita, ada dua yaitu ilmu lahir, yakni syariat dan ilmu batin yakni makrifat. Syariat untuk jasad kita dan makrifat untuk batin kita. Keduanya harus dipadukan, yang dari perpaduannya membuahkan ilmu hakikat. Seperti perpaduan antara pohon dan dedaunan yang menghasilkan buah. Sebagaimana yang diisyaratkan dalam firman Allah SWT,

“Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing.” (QS. Ar-Rahman (55): 19-20)

Jika tidak dipadukan, maka dengan ilmu lahir saja, manusia tidak akan mencapai ilmu hakikat dan tidak akan sampai pada tujuan inti ibadah (wushul ilallâh). Ibadah yang sempurna hanya dapat diwujudkan dengan perpaduan ilmu lahir dan ilmu batin. Sebagaimana firman Allah SWT,

“Dan tidak Aku jadikan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Dzâriyât(51]:56)

Adapun yang dimaksud “Agar beribadah kepada-Ku,” adalah makrifat (kenal) terhadap-Ku. Sebab, bagaimana orang bisa beribadah kepada-Nya jika tidak mengenal-Nya? Tapi, makrifat dapat dicapai setelah tirai hawa nafsu yang menghalangi cermin kalbu dibuka yaitu dengan sering-sering membersihkannya. Setelah bersih, manusia akan melihat indahnya al-kanzu al-makhfiyu (Allah SWT) pada rasa terdalam di lubuk kalbu. Sebagaimana firman Allah dalam Hadis Qudsi,

“Aku adalah Kanzan Makhfiyya (perbendaharaan yang terpendam dan tertutup). Aku ingin dikenali. Kuciptakan makhluk pun agar mereka mengenal-Ku.”

Dari sini, dapat disimpulkan bahwa tujuan penciptaan manusia adalah agar manusia makrifat kepada Allah.

Makrifat itu ada dua macam, yaitu Ma’rifat Shifat Allah dan Ma’rifat Dzat Allah. Makrifat sifat menjadi tugas setiap jasad di dunia dan akhirat(1). Sedangkan, Makrifat Dzat menjadi tugas Ruh Al-Qudsi di akhirat saja. Sebagaimana firman Allah,

“Ku-perkuat manusia dengan ruh Al-Qudsi.” (QS. Al-Baqarah [87)

Ma’rifat Shifat dan Ma’rifat Dzat hanya dapat dikuasai dengan memadukan antara ilmu lahir dan ilmu batin. Rasulullah SAW bersabda,

“Ilmu itu ada dua macam. Pertama, ilmu lisan, sebagai hujjah Allah kepada hambanya. Kedua, ilmu batin yang bersumber di Lubuk kalbu, ilmu inilah yang berguna untuk mencapai tujuan pokok dalam ibadah.” (HR. Ad-Darimi)

Pada mulanya, manusia membutuhkan ilmu syariat agar dengan usaha fisiknya-sesuai dengan kadar pengetahuannya terhadap Makrifat Sifat-ia mendapatkan derajat atau pahala. Pada tahap selanjutnya, manusia akan butuh ilmu batin sehingga dengan kemampuan Ruh Al-Qudsinya ia sampai pada Alam Makrifat. Adapun untuk mencapai tujuan ini, manusia harus meninggalkan segala sesuatu yang menyalahi syariat dan tarekat. Ini akan dapat dicapai dengan melatih diri meninggalkan hawa nafsu dan berbagai kegiatan ruhaniyah–meskipun sangat berat-dengan tujuan mendapat ridha Allah tanpa riya’ (ingin dipuji orang lain) dan sum’ah (mencari kemasyhuran). Allah SWT berfirman,

“Siapa yang mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya” (QS, Al-Kahf [18] 110)

Adapun yang dimaksudkan dengan Alam Makrifat pada hakikatnya adalah Alam Lahut. Dia adalah Negeri Asal tempat diciptakannya Ruh Al-Qudsi dalam wujud terbaik. Sedangkan yang dimaksud Ruh Al-Qudsi ialah Al-Insan Al-Haqiqi yang tinggal di lubuk kalbu: dimana manifestasi dari wujudnya akan muncul dengan tobat, talqin dan melafadzkan dengan terus-menerus kalimat “Lâ ilâha illallâh.” Pertama-tama diucapkan dengan lidah, setelah kalbunya hidup, ia dilafadzkan dengan lisan kalbunya. Ahli tasawuf menamakan Al-Insan Al-Haqiqi ini dengan sebutan Thiflul Ma’âni (bayi ma’nawi) karena ia berasal dari makna-makna yang suci (alma’nawiyyat al-qudsiyah).

Pemberian nama Ruh Al-Qudsi dengan Thiflul Ma’ani (thiflun bermakna bayi) ini didasarkan pada, pertama karena Thiflul Ma’ani lahir dari kalbu, seperti lahirnya bayi dari rahim ibu. Lantas kalbu pun merawat Thiflul Ma’ani ini seperti halnya ibu yang merawat bayinya-yang sedikit demi sedikit tumbuh menjadi dewasa. Kedua, karena sebagaimana anak-anak diajari berbagai hal, begitu juga Thiflul Ma’âni, ia diajari berbagai hal tentang makrifat. Ketiga, karena yang kita ketahui, bayi atau anak kecil adalah bersih dari dosa, maka begitu pula Thiflul Ma’âni, ia bersih dari syirik, ghaflah (lalai kepada Allah) dan dosa-dosa pikiran. Keempat, karena banyak yang beranggapan bahwa anak-anak adalah orang yang jiwanya bersih. Oleh sebab itu, dalam mimpi Thiflul Ma’âni ini disimbolkan dengan rupa anak yang tampan seperti malaikat. Kelima, karena Allah SWT menyifati ahli surga dengan anak-anak, sebagaimana firman Allah,

“Dan berkeliling di sekitar mereka anak-anak muda untuk (melayani) mereka, seakan-akan mereka itu mutiara yang ter-simpan.” (Qs. Ath-Thur [52]: 24)

Keenam, karena Thiflul Ma’âni itu sifatnya halus dan suci. Ketujuh, penggunaan nama Thiflul Ma’âni yang bersifat majasi atau kiasan-karena dikaitkan dengan badan dan diumpamakan dengan rupa manusia (anak kecil)-ini adalah karena keindahannya bukan karena ia kecil secara fisik seperti halnya anak-anak.

Dilihat dari kondisi yang sebenarnya di alam arwah, Thiflul Ma’ani adalah Al-Insan Al-Haqiqi karena dialah yang bisa merasakan nikmatnya musyahadah langsung pada Allah SWT. Sedangkan, badan dan Ruh Jismani-tidak bisa berhubungan langsung dengan Allah SWT-karena keduanya bukan mahram bagi Allah SWT. Ini berdasarkan hadis Nabi SAW,

“Aku punya waktu khusus dengan Allah; dimana malaikat terdekat, nabi yang diutus pun tidak akan memiliki kesempatan itu.” (HR. Ibnu Rahawaih)

Yang dimaksud dengan “nabi yang diutus” pada hadis di atas adalah basyariyah-nya Nabi SAW. Adapun yang dimaksud dengan “malaikat terdekat” adalah ruhaniah Nabi SAW yang diciptakan dari cahaya Alam Jabarut. Sebagaimana malaikat juga diciptakan dari cahaya Alam Jabarut, makanya malaikat tidak dapat masuk ke Alam Lahut. Nabi SAW bersabda,

“Allah memiliki surga yang di dalamnya tidak ada bidadari dan istana, tanpa madu dan susu. Kenikmatan di surga itu hanya satu, yaitu melihat Dzat Allah. Sebagaimana yang difirmankan Allah SWT, ‘Wajah-wajah (orang-orang Mu’min) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat.” (Qs. Al-Qiyamah (75):22-23)

Dan juga dijelaskan dalam sabda Nabi SAW, “Kalian akan melihat Tuhan kalian, seperti kalian melihat bulan pada malam purnama.” (HR. Al-Bukhari)

Andaikan malaikat dan jasmani memaksa masuk ke alam ini (Alam Lahut), maka keduanya pasti akan terbakar. Sebagaima firman Allah dalam Hadis Qudsi,

“Seandainya dibuka kesucian wajah-Ku yang Mulia maka pastilah terbakar segala sesuatu sejauh ‘mata-Ku’ memandang.” (HR. Muslim)

Sebagaimana juga yang diungkapkan Jibril AS., “Andaikan aku mendekat, pastilah aku terbakar.”

Kitab ini (Sirrul Asrâr wa Mazh-harul Anwâr) terdiri dari 24 pasal. Ini sesuai jumlah huruf dalam kalimat “Laa ilaaha illallooh Muhammadur rosuulullooh” dan sesuai jumlah jam dalam sehari yang ada 24 jam.[]

Catatan :

(1) Akhirat di kalangan ahli makrifat bukanlah penghujung waktu melainkan ujung ruang. Seseorang bisa saja badannya di bumi tapi ruh yang paling dalamnya bisa tembus ke akhirat. Atau, akhirat adalah Alam Lahut (Penerjemah)

Demikian uraian Bab Mukadimah dari buku “Terjemah Sirrul Asror, Rasaning Rasa”. Semoga dapat menjadi berkah dan manfaat SemuaNya, SegalaNya, SelamaNya.

Wallohul Muwaffiq ilaa Aqwamit Thooriq.

Wassalamu ‘Alaikum Warokhmatulloohi wa Barookaatuh.

What do you think?

Written by bangArif

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

GIPHY App Key not set. Please check settings

Mengenal Sosok Syekh Abdul Qodir Al-Jailani

Mengenal Sosok Syekh Abdul Qodir Al-Jailani

Hal-hal yang harus diperhatikan saat Berdzikir dan Berdoa

Hal-hal yang harus diperhatikan saat Berdzikir dan Berdoa