in , ,

Kemana Tempat Kembali Manusia Setelah Jasad Mati?

Kemana Tempat Kembali Manusia Setelah Jasad Mati?

Kembalinya Manusia Ke Asal-Usulnya Menurut Syaikh Abdul Qodir Al-Jaylani Ra Qs

Manusia ada dua yakni manusia jismani dan manusia ruhani. Manusia jismani adalah manusia seperti umumnya, sedangkan manusia ruhani adalah manusia khusus. Dia adalah mahramnya Negeri Asal dan disebut dengan Alam Al-Qurbah. Kembalinya manusia jismani ke Negeri Asal itu berarti kembalinya dia kepada derajat (surga). Dan, itu disebabkan oleh pengamalannya pada ilmu syariat, tarekat dan makrifat. Sebagaimana sabda Nabi SAW,

“Hikmah yang luas adalah mengenal Allah yang diamalkan tanpa riya’dan sum’ah.”

Derajat atau surga ada tiga tingkatan (sesuai jumlah amalan manusia jismani tadi yakni syariat, tarekat dan makrifat), pertama, surga di Alam Mulki yaitu Jannatul Ma’wa. Kedua, surga di Alam Malakut yaitu Jannatun Nai’m. Ketiga, surga di Alam Jabarut yaitu jannatul Firdaus. Semua ini adalah kenikmatan bagi manusia jismani. Sedangkan, manusia jismani sendiri tidak akan sampai pada tiga alam tersebut (Alam Mulki, Alam Malakut dan Alam Jabarut) kecuali dengan tiga ilmu, yaitu ilmu syariat, ilmu tarekat dan ilmu makrifat. Nabi SAW bersabda,

“Hikmah yang luas adalah mengenal Allah dan mengamalkannya adalah makrifat batin.”

Oleh karena itu, Rasulullah SAW berdoa, “Ya Allah, tunjukilah kami bahwa yang benar adalah benar dan berilah kami kemampuan untuk mengikutinya. Dan tunjukkan kepada kami bahwa yang batil itu adalah batil dan berikanlah kami kemampuan untuk menjauhinya.” (doa ini dikutip Ibnu Katsir)

Dan, Nabi SAW bersabda, “Barangsiapa yang mengenal nafsunya dan melawannya, berarti dia mengenal Tuhannya dan mengikuti jalan Nya.” (diungkapkan As-Suyuthi dalam kitab Al-Hawi)

Sedangkan, kembalinya manusia khusus ke Negeri Asal itu berarti kembali ke Alam Al-Qurbah, yakni dengan mengamalkan ilmu hakikat. Ilmu hakikat yang dimaksud adalah tauhid yang diajarkan di Alam Qurbah atau Alam Lahut. Pencapaian manusia khusus pada alam ini, terjadi di saat ia hidup di dunia, karena kebiasaan dia (dalam ibadah), baik dalam keadaan tidur maupun terjaga. Justru, pada saat tidur itulah, kalbu manusia khusus mendapat kesempatan sehingga ruhnya dapat kembali ke Negeri Asal secara keseluruhan atau sebagian saja. Sebagaimana Firman Allah

“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; Maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan.” (QS. Az-Zumar [39]: 42)

Oleh karena itu, Nabi SAW bersabda,

“Tidurnya orang Alim lebih besar pahalanya dari ibadahnya orang bodoh.” (HR. Ath-Thabarasi di Makârim Al-Akhlâq)

Kembalinya manusia khusus ke Negeri Asal itu adalah setelah kalbunya hidup oleh karena pancaran cahaya tauhid dan memulazamah-kan asma-asma tauhid dengan lisan siri tanpa huruf dan suara. Allah SWT berfirman dalam Hadis Qudsi,

“Manusia adalah rahasia-Ku dan Aku adalah rahasia manusia.”

Allah berfirman dalam Hadis Qudsi,

“Ilmu batin adalah rahasia-Ku yang paling rahasia. Aku wujudkan di dalam kalbu hamba-Ku dan tidak ada yang bisa memberikan pemahaman tentangnya kecuali Aku.” (Dikuatkan oleh riwayat Ad-Dailami)

Allah SWT juga berfirman, “Aku ini sesuai dengan sangkaan seyakinan) hamba-Ku. Aku bersamanya ketika dia mengingat-Ku. Bila dia mengingat-Ku pada kalbunya, Aku pun mengingatnya pada Dzat-Ku. Lan bila dia mengingat-Ku pada suatu kumpulan, maka Aku pun akan mengingatnya di dalam kumpulan yang lebih baik darinya.”

Berdasarkan hadis ini maka maksud dari keberadaan manusia adalah agar ia mampu kembali ke Negeri Asalnya dengan tafakur.

.

ذکر کن ذکری که تا فکری آورد

Zik kun zikri ke të fikri övard

صد هزاران معین بشکری آورد

Sad hizörön muin bisyukri övard.

Nabi SAW bersabda, “Tafakur sesaat lebih besar pahalanya daripada ibadah setahun.”

Nabi SAW juga bersabda, “Tafakur sesaat lebih besar pahalanya daripada ibadah 70 tahun.”

Beliau juga bersabda, “Tafakur sesaat lebih besar pahalanya daripada ibadah seribu tahun.”

Dari hadis-hadis itu dapat diambil 3 pemahaman bahwa manusia yang berpikir dalam tafsilan-tafsilan cabang, meski hanya satu jam maka nilai tafakurnya lebih besar daripada praktik ibadah selama setahun. Sedangkan, berpikir tentang aturan-aturan ibadah wajib (pokok), maka nilai tafakurnya lebih besar daripada ibadah 70 tahun. Dan berpikir tentang makrifat kepada Allah, nilai tafakurnya lebih besar daripada beribadah 1000 tahun: Syekh AlAnshari bersyair,

Berzikirlah dan raih sebuah penghayatan (pemikiran)

Ratusan ribu penolong datang dari sebuah rasa syukur

وهو علم العرفان أغني التوحيد، وبه يصل العارف إلى معروفه ومحبوبه ونتيجة علم العارف الطيران

بالروحانية إلى عالم القربة. كما قال جلال الين الرومي:

سیمرغ قاف قربتم شهباز دست قدرتم

Simurgh qöf qurbatam/Syah böz dast qudratam

غواص بحر حیاتم / گوهر شناس انس و جان

Ghavöz bahre hayatam/Guhar syenöz insyu jön

Berpikir tentang makrifat Allah ini disebut dengan Ilmu Al-‘Irfan yakni di Alam Tauhid. Dengan cara itu, seorang yang makrifat billâh akan sampai kepada Dzat yang diketahui dan dicintainya. Hasil pengetahuan dari orang yang ‘arif billâh adalah kemampuannya untuk “terbang” dengan ruhaninya menuju Alam Al-Qurbah. Sebagaimana ungkapan Jalaluddin Ar-Rumi,

Burung Simurgh di gunung Qaf adalah qurbatku/Elang adalah kekuatanku

Penyelam (mutiara) adalah hidupku/Jadilah seperti ahli permata hingga kau bisa mengenali nilai manusia dan jiwa

Seorang yang ahli ibadah menuju surga dengan berjalan, sedangkan seorang ‘arif billâh “terbang” ke Alam Al-Qurbah. Sebagian ulama mengatakan,

Kalbu para ahli makrifat memiliki mata

Mampu melihat apa yang tidak bisa dilihat orang biasa

Memiliki sayap yang bisa terbang tanpa bulu

Mengepak hingga Malakutnya Tuhan Pencipta Alam

Hal seperti ini terdapat dalam diri para ahli makrifat val. Al-Insan Al-Haqiqi atau Ruh Al-Qudsi. Dialah kekasih Allah SWT mahram Allah SWT dan pengantinnya. Abu Yazid Al-Bustami

berkata,

“Para wali Allah adalah pengantin-pengantin Allah. Pengantin-pengantin itu tidak akan bisa dilihat kecuali oleh mahramnya. Mereka tertutup saat di sisi Allah SWT karena terhalang sisi kemanusiaannya. Tidak ada yang mampu melihat para pengantin itu, baik di dunia maupun di akhirat. kecuali Allah SWT.”

Sebagaimana firman Allah dalam Hadis Qudsi, “Wali-wali-Ku berada di bawah kubah-kubah-Ku. Tidak ada yang mengetahuinya selain Aku.” Seperti halnya, manusia tidak akan bisa melihat sisi lahir dari seorang pengantin, kecuali hanya keindahan lahiriahnya saja.

Sayyid Yahya bin Mu’adz Ar-Razi berkata,

“Wali adalah wewangian Allah di bumi. Tidak ada yang mampu mengenali aromanya kecuali orang-orang yang bergelar ashshiddiqûn (orang yang sungguh-sungguh dalam melaksanakan ketakwaan).”

Bagi ash-shiddiqûn, aroma wangi sang wali akan tercium hingga lubuk kalbunya. Aroma itu lantas menimbulkan gairah rindu mereka pada Tuhannya. Sehingga, ibadahnya semakin meningkat menurut kadar dan derajat akhlak serta kefanaan mereka. Ini karena, makin tinggi qurbah-nya makin bertambah pula fananya. Dan, wali adalah orang yang ada dalam keadaan fana (lebur diri) dan selalu musyâhadah kepada Allah SWT. Bahkan, dirinya tidak punya kemampuan memilih dan tidak ada “tempat” yang tenang baginya selain Allah SWT. Mereka adalah orang-orang yang diperkuat dengan karamah, tetapi mereka sendiri “tertutup” dalam karamah karena tidak diberi izin untuk menjelaskannya. Sebab menjelaskan rahasia ketuhanan adalah kufur.

Sebagaimana yang dikatakan pengarang kitab Mirshad Al-‘Ibad, Najmuddin Abu Bakar atau Dhayih,

“Orang-orang yang memiliki karamah, mereka tertutup’terhadap pengetahuan mengenai karamah.”

Karamah sendiri pada hakikatnya adalah seperti haid bagi rijâlullâh (menunjukkan karamah itu bagi rijâlullâh adalah ibarat perempuan memberitahukan haidnya). Dan, wali memiliki seribu maqam. Maqam yang pertama adalah karamah. Orang yang telah menyelesaikan tingkatan karamah maka ia akan mudah masuk ke tingkatan yang lain.

Sumber :

Sirrul Asror Karya Syaikh Abdul Qodir Al-Jaylani Ra Qs, Diterjemahkan oleh KH Zezen Zainal Abidin Zayadi BA

What do you think?

Written by bangArif

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

GIPHY App Key not set. Please check settings

Tasawuf dan Sufi dalam Pandangan Imam Al-Ghazali

Tasawuf dan Sufi dalam Pandangan Imam Al-Ghazali

Tata Cara Menjamak Shalat

Tata Cara Menjamak Shalat