in

Tasawuf dan Sufi dalam Pandangan Imam Al-Ghazali

Tasawuf dan Sufi dalam Pandangan Imam Al-Ghazali

Penjelasan Tasawuf dan Sufi Menurut Imam Al-Ghazali

Apa itu Tasawuf, dan Siapa itu Sufi?
Untuk dapat menjelaskan pengertian tentang Apa itu Tasawuf, dan Siapa itu Sufi kiranya seringkali tidak dapat dijelaskan secara sederhana dan mudah bagi kita yang awam dengan istilah tersebut.
Mungkin sekali waktu kita sedikit mengalami kesulitan untuk menjelaskan tasawuf dan sufi kepada orang lain dengan kalimat singkat dan sederhana. Mungkin juga kita menjelaskan tasawuf dan sufi dengan penjelasan panjang yang tidak definitif.

Mungkin kita juga menjelaskan tasawuf dan sufi dengan pengertian yang rumit yang justru justru membuat tasawuf dari Gambaran itu. Pasalnya, tasawuf memiliki pokok utama yang tidak bisa dihapus. Sementara banyak penjelasan lainnya hanya merupakan cabang, ekspresi, dan bentuk penerjemahan dari pokok-pokok tasawuf.

Imam Al-Ghazali memberikan penjelasan pendek yang menjadi pokok-pokok dalam tasawuf. Penjelasan singkat ini cukup memadai. Ia menyebutkan hablum minallah dan hablum minan nas sebagai ajaran pokok dalam tasawuf.

Dua pilar utama tasawuf ini disebutkan oleh Imam Al-Ghazali dalam kitab Ayyuhal Walad untuk mengenalkan dunia tasawuf dan sufi kepada anak-anak. Dua ajaran pokok dalam tasawuf ini disampaikan dengan bahasa singkat dan sederhana agar mudah dipahami oleh kalangan anak-anak.

Meski demikian, bobot penjelasan singkat ini cukup bermanfaat juga bagi orang dewasa. Penjelasan singkat dan sederhana ini tidak mengurangi substansi tasawuf. Penjelasan sederhana itu berbunyi sebagai berikut:

ثم اعلم أن التصوف له خصلتان الاستقامة مع الله تعالى والسكون عن الخلق٬ فمن استقام مع الله عز وجل وأحسن خلقه بالناس وعاملهم بالحلم فهو صوفي

Artinya, “Ketahuilah tasawuf memiliki dua pilar, yaitu istiqamah bersama Allah dan harmonis dengan makhluk-Nya. Dengan demikian siapa saja yang istiqamah bersama Allah SWT, berakhlak baik terhadap orang lain, dan bergaul dengan mereka dengan santun, maka ia adalah seorang sufi,” (Imam Al-Ghazali, Ayyuhal Walad, [Singapura-Jeddah-Indonesia, Al-Haramain: 2005], halaman 15).

Bagi Imam Al-Ghazali, upaya menemukan inti dari tasawuf tidak sulit baginya. Pasalnya, ia memahami apa yang dia jalani berpanjang-panjang selama ini dalam kehidupan terutama Ihya Ulumiddin.

Istiqamah bersama Allah baik secara lahir dan batin menuntut kebulatan hati dan kesatuan perbuatan yang sesuai dengan garis agama Islam. Interaksi secara baik dengan empati terhadap makhluk-Nya merupakan sisi lain tasawuf yang sulit dipisahkan dari yang pertama, yaitu istiqamah.

Tasawuf bukan semata masalah lahiriah yaitu soal jubah, serban, biji tasbih, rida yang diselempangkan di bahu, berjenggot, bertongkat, menunjukkan lafal tauhid, celana hingga di atas mata kaki, mengubah menjadi ejaan lebih islami dalam media sosial, atau soal kekuatan ghaib akrobatik dengan pelbagai kecenderungan khariqul adat.

Tasawuf, bagi Imam Al-Ghazali, juga bukan fenomena hijrah yang dilihat secara sempit sebagai tindakan meninggalkan aktivitas yang dianggap tidak Islami atau uzlah pencapaian manusia dan pelbagai aktivitas yang dipersangkakan haram.

The sufi dalam bahasa sederhana Imam Al-Ghazali adalah orang-orang yang menjaga perilakunya untuk taat kepada Allah lahir dan batin, serta bermasyarakat dengan kepedulian terhadap sesama dan alam sekitar.

Dengan pengertian sederhana ini, setiap orang dapat menjadi atau menyandang standing sufi tanpa mengubah penampilan dan meninggalkan aktivitas sehari-hari yang dijalani selama ini tidak melanggar syariat.

Pelajar, mahasiswa, santri, guru, dosen, pekerja pabrik, karyawan financial institution, pekerja, pekerja swasta, ASN, desainer, fotografer, pemusik, dapat menjadi sufi tanpa harus mengubah tampilan lahiriah dan meninggalkan aktivitas sehari-harinya. Dalam bahasa singkat, setiap dari kita dapat menjadi sufi dengan dua pilar tasawuf tersebut tanpa harus ikut-ikutan dalam ‘fenomena hijrah.’ Wallahu a’lam.

Penulis: Alhafiz Kurniawan
Editor: Muchlishon

Tulisan Asli diterbitkan oleh NU.OR.ID

What do you think?

Written by bangArif

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

GIPHY App Key not set. Please check settings

Kisah Nabi Musa As Berguru Kepada Nabi Khidir As

Kisah Nabi Musa As Berguru Kepada Nabi Khidir As

Kemana Tempat Kembali Manusia Setelah Jasad Mati?

Kemana Tempat Kembali Manusia Setelah Jasad Mati?