in , ,

Proses Turunnya Manusia Ke Alam Mulki

Proses Turunnya Manusia Ke Alam Mulki

Terjemah Sirrul Asror Rasaning Rasa Pasal 2. Pandangan Syaikh Abdul Qodir Al-Jaylani tentang Penurunan Manusia Ke Alam Yang Paling Bawah.

Ketika Allah SWT menciptakan Ruh Al-Qudsi-dalam wujud yang terbaik di Alam Lahut–lalu, Dia menurunkannya ke alam terendah, itu tidak lain adalah untuk menyempurnakan unsiyah dan qurbiyah-nya kepada Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya,

“Di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Mahakuasa” (QS. Al-Qomar [54]: 55)

Jika unsiyah dan qurbiyah telah sempurna maka itulah maqam para wali dan para nabi. Proses penurunan Ruh Al-Qudsi ke alam terendah adalah, pertama-tama Allah SWT menurunkan Ruh Al-Qudsi atau Al-Insan Al-Haqiqi ke Alam Jabarut dan membekalinya dengan bibit tauhid. Di Alam Jabarut itu pula Allah SWT menanamkan cahaya dari bibit tauhid pada Ruh AlQudsi. Di alam itu (Alam Jabarut) Ruh Al-Qudsi lalu diberi pakaian ‘unshuriyah (dibalut dengan unsur Alam Jabarut). Begitu pula proses di Alam Malakut, setelah pindah dari Alam Jabarut. Dan, begitu pun selanjutnya, ketika Ruh Al-Qudsi turun lagi-dari Alam Malakut-ke Alam Mulki, Allah SWT menciptakan terlebih dahulu pakaian ‘unshuriyah agar jasad tidak terbakar oleh kekuatan ruh yang terdalam. Sesuai dengan pakaian ‘unshuriyah-nya, Ruh AlQudsi ini lantas memiliki nama masing-masing, pertama, setelah diberi pakaian ‘unshuriyah di Alam Jabarut, Ruh Al-Qudsi bernama Ruh Sulthani. Kedua, setelah diberi pakaian ‘unshuriyah di Alam Malakut, Ruh Al-Qudsi bernama Ruh Sirani Rawani. Ketiga, setelah diberi pakaian ‘unshuriyah di Alam Mulki, Ruh Al-Qudsi bernama Ruh Jismani.

ما شاخ بلندیم پر از میوه توحید

Mö syökh bulandim pur az mivěh tauhid

هو رهگذری سنگ می زند عار نداریم

Har rahguzari sangg mi zanad ör nadörím

Tujuan utama diturunkannya Ruh Al-Qudsi ke alam terendah yakni menjadi manusia adalah agar dengan kalbu dan jasadnya, manusia mencapai derajat (surga) dan al-qurbah. Makanya, Allah SWT menanamkan bibit tauhid di ladang kalbu (saat di Alam Jabarut) agar nantinya (dengan amalannya) tumbuh menjadi pohon tauhid sehingga akarnya kokoh di alam rasa, dan dari pohonnya menghasilkan buah tauhid untuk menggapai ridha Allah SWT. Seperti ungkapan syair,

Kami adalah ranting pohon tinggi yang penuh dengan buah tauhid

Tak pernah gentar walau setiap pejalan ingin melempar batu

Allah SWT juga menanamkan benih syariat di dalam jasad agar nantinya (dengan amalannya) tumbuh menjadi pohon syariat dan menghasilkan buah derajat (pahala di surga).

Setelah proses penurunan Ruh Al-Qudsi ke tempat terendah ini sampai di Alam Mulki. Lalu, Allah SWT memerintahkan setiap lapisan ruh (Ruh al-Qudsi, Ruh Sulthani, Ruh Sirani Rawani dan Ruh Jismani) untuk masuk ke dalam jasad. Masing-masing memiliki tempat tersendiri dalam tubuh manusia. Tempatnya Ruh Jismani adalah di dalam jasad antara daging dan darah. Tempat Ruh Rawani adalah di hati (al-qalb). Tempatnya Ruh Sulthani adalah di mata hati (al-fu’ad). Dan, tempatnya Ruh Al-Qudsi adalah rasa (sirri). Setiap lapisan ruh itu, mempunyai hanut atau ruang edar di Alam Wujud. Masing-masing memiliki potensi, hasil dan manfaat yang tidak akan sia-sia, lahir maupun batin.

Oleh karena itu, manusia wajib mengetahui bagaimana ca mengolah masing-masing lapisan ruh itu di alam wujudnya soh apapun yang dihasilkan dari pengolahan atau penggalian potensi tiap lapisan ruh itu, akan diminta pertanggung jawabannya di Hari Kiamat. Sebagaimana firman Allah SWT,

“Maka apakah dia tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur, dan dilahirkan apa yang ada di dalam dada,” (QS. ‘Aadiyat (100): 9-10)

Dalam ayat lain Allah SWT juga berfirman,

“Dan tiap-tiap manusia itu telah kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. Dan, Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka.” (QS. Al-Isra’ (17]: 13)

Demikianlah apa yang disampaikan oleh Tuan Syaikh Abdul Qodir Al-Jaylani Ra Qs tentang Turunnya Manusia ke Alam Yang Paling Bawah sesuai dengan yang tertulis dalam Terjemah Kitab Sirrul Asror, Rasaning Rasa Pasal 2 yang diterjemahkan oleh KH Zezen Zainal Abidin BA.

What do you think?

Written by bangArif

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

GIPHY App Key not set. Please check settings

Tata Cara Menjamak Shalat

Tata Cara Menjamak Shalat

Qolbu sebagai Cerminan Diri Dalam Pandangan Tasawuf

Qolbu sebagai Cerminan Diri Dalam Pandangan Tasawuf