in ,

Qolbu sebagai Cerminan Diri Dalam Pandangan Tasawuf

Qolbu sebagai Cerminan Diri Dalam Pandangan Tasawuf

Hatiku Adalah Cermin Diriku, Dalam Buku Lautan Tanpa Tepi Sebuah Karya Syaikh Muhammad Abdul Gaos Syaifulloh Maslul Ra Qs (Mursyid ke-38 Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah PP Suryalaya-Sirnarasa)

Bismillaahirrokhmaanirrokhiim

Ibadah, apapun bentuknya semua bermuara untuk menggapai pribadi yang bertakwa. Dalam kitab Miftahus Shudur juz 2, diceritakan Alloh SWT memberi kabar bahwa manusia dengan dzikir akan menjadi orang yang bertakwa. Orang yang ingin bertakwa harus istiqomah dalam mengamalkan dzikir. Karena dzikir berbuah ketakwaan sebagai bagian dari upaya mengikis
habis sifat-sifat tercela dalam hati.


Begitu pula dalam bulan Ramadhan, salah satu objek garapan terpenting bagi kita adalah hati. Ini pula yang sebenarnya menjadi bidang garapan ibadah-ibadah lain. Sholat umpamanya, membina hati agar selalu ingat pada Alloh SWT. Zakat, bukan sekedar mengeluarkan uang tetapi sasarannya adalah melatih hati agar terhindar dari penyakit bakhil. Demikian juga haji, melatih agar terhindar dari perasaan takabur.


Seluruh rangkaian ibadah adalah proses tazkiyah, pembersihan jiwa. Dengan ibadah rutin seperti sholat, diharapkan daki-daki yang mengotori hati yang disebabkan dosa-dosa harian dapat tercuci. Demikian juga ibadah shaum Ramadhan yang sarat dengan aturan-aturan ini, diharapkan dengannya kotoran-kotoran yang sudah menjadi flek-flek berupa dosa tahunan dapat terbersihkan. Jika Prokasih (Program kali bersih) di kota-kota besar perlu pembersihan setahun sekali, maka demikian pula halnya shaum Ramadhan juga merupakan upaya pembersihan hati setahun sekali sehubungan dengan turunnya alat pembersih hati pada bulan itu.

Tentu saja tidak semua orang yang menjalankan puasa Ramadhan otomatis hatinya bersih. Ibarat sabun cuci, jika seseorang yang hendak mencuci pakaiannya tanpa membilasnya
dengan air bersih maka pakaian itu akan tetap kotor. Mungkin malah bertambah kotor. Itulah yang disebut oleh nabi, “Banyak orang yang puasa, tapi mereka tidak mendapatkan apa-apa, kecuali lapar dan dahaga saja.” Sebaliknya, orang yang menjalankan ibadah Ramadhan dengan aturan yang benar, proses dan mekanismenya sesuai dengan sunah rosul, maka ia akan mendapatkan hasil yang baik. Sebagaimana sabda Nabi, “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan dengan iman dan mengikuti ketentuan syari’ah, maka diampunkan segala dosa-dosa masa lalunya.” Bahkan dalam hadits lain disebutkan, mereka itu akan kembali seperti baru dilahirkan.

Hadits ini menggambarkan betapa bersih hati seseorang yang telah terampuni dosa-dosanya berkat ibadah Ramadhan. Demikian bersihnya dosa seseorang sampai-sampai diumpamakan
sebagai bayi yang baru lahir. Sebuah gambaran yang luar biasa, sebab bayi belum pernah melakukan dosa apa pun juga. Karenanya seorang bayi selalu menggembirakan siapa saja yang memandangnya. Semua orang tertarik untuk menggendong, membelai, dan
menyayanginya. Itulah gambaran orang yang telah terampuni dosa-dosanya. Hatinya bersih sebening kaca. Hati seperti itulah yang digambarkan Rosululloh noticed sebagai, “Hati jernih, yang di dalamnya ada lampu yang bersinar terang ialah hati orang yang beriman.”

Hati ibarat cermin. Bila cermin itu bersih tentu dapat memantulkan cahaya ilahi. Tetapi hati yang kotor seperti cermin yang kotor, tak secercah cahaya pun dapat menembusnya apalagi
memantulkannya kembali. Pada hati yang bersih kita bisa bercermin. Artinya kita bisa melihat dari pantulannya tentang mana yang patut dan mana yang kurang sesuai. Yang kurang patut segera dibenahi, yang sudah patut terus dipertahankan dan kalau mungkin ditingkatkan. Sedang yang mengotorinya segera dibuang jauh-jauh. Mudah sekali bila hati kita bersih. Itulah sebabnya hati yang bersih dapat menjadi penasihat kita seharihari. Kita akan selamat karena memiliki hati yang bersih. Kotoran sekecil apa pun dapat diketahui dengan segera, apalagi yang besar. Sebelum melakukan sesuatu bercerminlah pada hati. Hati itulah yang akan memberi komentar, mengoreksi, dan memperbaiki.

Rosululloh saw bersabda, “Barangsiapa yang hatinya memperoleh penasihat, dia akan mendapatkan Alloh sebagai penjaganya.” Tentu saja hadits ini bukan rekayasa nabi, melainkan petunjuk langsung dari Alloh SWT. Artinya Alloh benar-benar akan menjaga orang yang hatinya bersih. Orang yang hatinya masih bersih sangat sensitif bila melihat kemungkaran dan segala tindak kejahatan. Jika dia sendiri melakukannya tentu segera tanggap dan minta ampun kepada Alloh. Jika orang lain yang mengerjakan itu, dia pasti membenci kemudian berusaha untuk memperbaikinya.

Suatu ketika Nabi ditanya, “Apakah dosa itu?” Beliau menjawab, “Dosa adalah segala pekerjaan yang engkau malu bila melakukannya secara terang-terangan.” Suatu kali ada yang bertanya lagi, beliau menjawab, “Adalah sesuatu yang menggusarkan hatimu.” Tetapi orang yang hatinya sudah terbiasa melakukan dosa, tidak lagi merasa risih, gusar, dan merasa bersalah bila melakukan tindakan kejahatan. Ada kesan bahwa kesalahan ini menjadi tradisi sehari-hari yang bisa dimaklumi. Dengan kata lain, apabila orang berhati gelap gulita melakukan kejahatan, ia merasa bahwa hal itu lumrah-lumrah saja, seperti yang biasa dilakukan siapa saja. Kenapa malu? Orang lain juga melakukannya. Kenapa mesti dihindari? Toh hal itu sudah menjadi budaya. Begitulah kira-kira apa yang ada dalam benaknya.

Janganlah pernah meminta nasihat kepada seseorang yang memiliki kepribadian yang seperti demikian. Terhadap dirinya saja tidak bisa menasihati, apalagi untuk orang lain. Orang demikian akan selalu hidup dalam kegelapan tanpa lampu penerang. Hidayah Alloh pasti terpental, tidak bisa menembus hati yang seperti itu. Nasihat dijadikan nyanyian, tontonan dijadikan tuntunan, kebenaran dilecehkan, Al Qur’an diacuhkan, kisahkisah teladan diplesetkan. Hati yang demikian digambarkan Al Qur’an dalam surat Al Baqarah:74

Artinya: kemudian setelah hati-hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. (Q.S. Al Baqarah:74)

Pada hati yang gelap gulita seperti inilah setan bersemayam. Di sana setan membangun markas besarnya. Dari sana pula setan menyebar ke seluruh anggota tubuh melalui jaringan-jaringan darah. Dari mana darah mengalir, di situ setan bertengger. Tak satu anggota tubuh pun yang tidak ditembusnya. Dalam kondisi yang demikian, sungguh tak ada batas lagi antara dia dan setan. Tak ubahnya lengket bagai ikan dengan air, ia merasa tak lagi bisa hidup tanpa bimbingan setan.

Banyak orang yang tak bisa tidur tanpa musik yang mengalun. Makan tidak enak bila tak didampingi wanita cantik yang siap melayani segala kebutuhan. Bicara tak lancar tanpa bumbu dusta. Jika ia seorang wanita, ia merasa kurang tepat tampil tanpa membuka auratnya. Orang-orang seperti ini hidupnya sudah bergantung pada setan. Satu-satunya bimbingan yang diikuti adalah bimbingan dari setan. Kemana pun setan mengomando, ke sanalah ia menuju. Kemana lagi setan membimbing orang demikian jika bukan ke jalan kesesatan? Hati yang gelap kian menjadi pekat. Hati yang demikian digambarkan Alloh dalam firman-Nya:

Artinya: “Atau bagai gelap gulita di lautan kelam, yang diliputi oleh ombak, di atasnya lagi mendung menggumpal. Gelap bertumpang tindih dengan gelap. Jika diulurkan tangannya, nyaris ia tak mampu melihatnya sendiri. Barangsiapa yang Alloh tidak menjadikannya cahaya untuknya, tidaklah ia mendapatkan cahaya sedikitpun.” (QS. An Nur: 40)

Perihal gelap hati ini tentu akan menjadi lebih berbahaya jika orang terpelajar atau cendekiawan yang memilikinya, keenceran otaknya tidak banyak berfungsi, malah lebih berbahaya lagi. Bertambahnya ilmu tidak semakin mendekatkan dirinya kepada Alloh, tapi malah menjauhkannya. Semakin cerdas otaknya semakin angkuh perilakunya. Orientasi berpikirnya tidak lebih daripada memenuhi kebutuhan perut dan syahwatnya semata. Itu saja yang dipikirkan dan diusahakan untuk dipenuhi sepanjang hidupnya. Hal yang serupa juga akan sangat berbahaya jika yang gelap hati adalah seorang pemimpin. Padahal yang termasuk kategori ini semakin banyak saja. Pemimpin jenis ini jauh mengutamakan nafsu ketimbang akalnya. Jika akalnya dimanfaatkan, itu pun berkat bimbingan setan. Alhasil kerja akalnya hanya untuk mencari cara untuk menumpuk-numpuk harta selagi masih berkuasa tanpa peduli rakyatnya melarat. Tak jadi soal rakyatnya menderita, kalau perlu rakyatnya dijadikan “tumbal”, untuk kepentingan pribadinya.

Banyak contoh penguasa seperti ini dalam Al Qur’an. Fir’aun adalah salah satunya. Tentu saja “fir’aun-fir’aun” zaman sekarang lebih banyak lagi jumlahnya, dengan segala variasi dan operandi yang berbeda tentunya. Hati mereka gelap, matanya juga buta. Rosululloh saw bersabda, “Bekunya mata karena kerasnya hati, kerasnya hati akibat banyaknya dosa. Menumpuknya dosa akibat lupa mati. Lupa mati karena banyaknya angan-angan. Terlalu panjang angan-angan disebabkan karena terlalu cinta dunia. Cinta kepada dunia itulah yang menjadi sumber segala kesalahan.”

Siapa tak cinta dunia? Yang miskin kerja keras, banting tulang, peras keringat untuk mencari sesuap nasi dari pagi hingga pagi kembali. Hidupnya untuk mengais rupiah demi rupiah. Kenapa takut mati, karena masih cinta dunia ini. Kekayaan yang sudah di tangan tak boleh berhenti, terus diputar dan diputar. Terus dikembangkan hingga beranak cucu, bunga berbunga. Tiada kata puas. Semakin banyak semakin haus. Ibarat minum air laut, tidak mengobati dahaga malah menjadikan kita semakin haus. Rakus dan tambah rakus. Bakhil dan semakin pelit. Bukannya tak boleh kerja keras, malah harus. Akan tetapi untuk apa? Jika hanya untuk sesuap nasi atau selembar uang rupiah, tanpa tujuan yang lebih mulia, hidup kita tidak lebih berharga dari binatang, malah lebih rendah lagi.

Bukan berarti kita tidak perlu kaya, malah kita harus berusaha keras untuk menjadi kaya. Kekayaan yang dapat dipakai sebagai sarana ibadah kepada Alloh. Dalam kitab Tafrihul Khotir dan Fathurrobbani, Syekh Abdul Qodir al Jailani menyampaikan wasiat tentang kekayaan ini. Wasiat yang sangat pendek dan simpel namun maknanya luas dan sedalam lautan:

Artinya: “Harta kekayaan itu harus menjadi khodammu, harus mengabdi kepadamu dan harus tunduk kepadamu, sedangkan kamu harus tunduk kepada Alloh.”

Apa saja harta kekayaan itu? Rumah, mobil, motor, sawah, ladang perusahaan, istri, anak dan sebagainya, itu di antaranya contoh-contoh kekayaan. Kadang-kadang, bahkan sering kita terlalaikan dengan kekayaan itu sehingga lupa kepada yang memberi kekayaan, yaitu Alloh yang Maha Kaya dan pemberi kekayaan. Kekayaan itu jangan hanya disimpan, dipajang, apalagi dimanfaatkan untuk maksiat, melainkan untuk dibelanjakan di jalan Alloh. Jika tidak demikian maka di akhirat nanti harta tersebut akan dikalungkan di leher pemiliknya dalam keadaan terbakar api neraka. Naudzubillah.

Kelalaian itu semuanya bersumber dari hati, jika hati rusak maka rusaklah segalanya. Jika baik, maka baiklah semuanya. Karenanya hati perlu dirawat sedemikian rupa. Ramadhan telah memberi kesempatan seluas-luasnya untuk membersihkan hati. Mudah-mudahan itu bisa kita raih, sehingga hati kita menjadi bersinar. Tidak saja menyinari diri sendiri, lebih jauh dapat menyinari lingkungan sekitar. Di hati yang bersinar itulah, Alloh senantiasa menyertai. Suatu ketika Rosululloh saw ditanya, “Dimanakah Alloh berada, di bumi atau di langit?” Nabi menjawab, “Di hati orang mukmin.” Lebih tegas lagi Alloh berfirman dalam hadits qudsi, “Bumiku tak sanggup memuat dzat-Ku begitu juga langit-ku, yang dapat memuat-Ku adalah hati-hati hambaku yang beriman, lunak dan tenang.”

Agar hati senantiasa bersinar maka perkuat keyakinan/ keimanan diri dengan memperbanyak dzikrulloh (Laa ilaaha Illalloh) yang telah ditalqinkan oleh syekh mursyid sehingga terpatri kokoh di relung hari. Dari hati yang bersinar itulah maka akan didapatkan Iman yang haqqul yaqin, kokoh, kuat tak tergoyahkan; mahabbah yaitu mencintai Alloh dan rosul-Nya melebihi cintanya kepada yang lain-lainnya, lalu tashfiyah al qulub yaitu bersihnya hati dari penyakit dan kotoran seperti sombong, riya’, hasad, iri, dengki, rakus, dan sebagainya.

Sinar dzikrulloh akan memantul dalam hati menyinari relung hati, menerangi perilaku sehari-hari, menembus jalan gelap, menguak segala misteri. Duhai, siapa saja yang berharap hatinya bersih? Alangkah bahagianya jika kita mempunyai hati yang bersih. Kita akan senantiasa bersama-sama dengan Alloh SWT, kalau pun belum bisa-karena diri kita masih kotor-maka ikut saja menempel dengan Syekh Mursyid Kamil yang sudah benar-benar bersama-sama dengan Alloh.

What do you think?

Written by bangArif

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

GIPHY App Key not set. Please check settings

Proses Turunnya Manusia Ke Alam Mulki

Proses Turunnya Manusia Ke Alam Mulki

Manaqib Syekh Abdul Qodir Al Jailani – Bulan Mukharrom Manqobah Ke-39

Manaqib Syekh Abdul Qodir Al Jailani – Bulan Mukharrom Manqobah Ke-39